Menu Click to open Menus
Home » Artikel » Tentang Bisnis Jaringan » Ciri-ciri Bisnis MLM yang Halal Menurut Islam

Ciri-ciri Bisnis MLM yang Halal Menurut Islam

(857 Views) January 28, 2017 10:20 am | Published by | 1 Comment

Saya sengaja menuliskan tentang ciri-ciri bisnis MLM yang halal menurut Islam ini dengan tujuan sekedar berbagi, terutama bagi teman-teman muslimĀ  yang saat ini tengah menjalankan bisnis MLM, ataupun yang berminat mengikuti bisnis MLM, atau bisnis jaringan lainnya.

Silahkan disimak, dan dijadikan bahan dasar evaluasi terhadap bisnis jaringan yang sedang atau akan Anda lakukan.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) sebagai lembaga resmi yang diakui pemerintah RI dan melibatkan ulama dari berbagai Ormas Islam telah mengeluarkan fatwa yang dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk menentukan halal haramnya sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis MLM.

Menurut Maruf Amin (Kepala Badan Pelaksana Harian Dewan Syariah Nasional MUI) fatwa MUI terkait MLM syariah memang dibuat ketat. MUI selama ini berpegang pada Fatwa MUI nomor 75/DSN-MUI/VII/2009 tentang Pedoman Penjualan Langsung Berjenjang Syariah (PBLS) dan No.83/DSN-MUI/VI/2012 tentang Penjualan Langsung Berjenjang Syariah Jasa Perjalanan Umrah.

Ada 12 persyaratan bagi MLM masuk kategori HALAL sesuai syariah, yaitu :

  1. Ada obyek transaksi riil yang diperjualbelikan berupa barang atau produk jasa;
  2. Barang atau produk jasa yang diperdagangkan bukan sesuatu yang diharamkan dan atau yang dipergunakan untuk sesuatu yang haram;
  3. Transaksi dalam perdagangan tidak mengandung unsur gharar, maysir, riba, dharar, dzulm, maksiat;
  4. Tidak ada kenaikan harga/biaya yang berlebihan (excessive mark-up), sehingga merugikan konsumen karena tidak sepadan dengan kualitas;
  5. Komisi yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota, besaran maupun bentuknya harus berdasarkan prestasi kerja yang terkait langsung dengan volume atau nilai hasil penjualan produk, dan harus menjadi pendapatan utama mitra usaha dalam PLBS;
  6. Bonus yang diberikan oleh perusahaan kepada anggota harus jelas jumlahnya, saat transaksi (akad) sesuai dengan target penjualan barang dan atau produk jasa yang ditetapkan perusahaan;
  7. Tidak boleh ada komisi atau bonus secara pasif yang diperoleh secara reguler tanpa melakukan pembinaan dan atau penjualan barang dan atau jasa;
  8. Pemberian komisi atau bonus oleh perusahaan kepada anggota (mitra usaha) tidak menimbulkan ighra.
  9. Tidak ada eksploitasi dan ketidakadilan dalam pembagian bonus antara anggota pertama dengan anggota berikutnya;
  10. Sistem perekrutan, bentuk penghargaan dan acara seremonial yang dilakukan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan aqidah, syariah dan akhlak mulia, seperti syirik, kultus, maksiat dan sebagainya;
  11. Setiap mitra usaha yang melakukan perekrutan keanggotaan wajib membina dan mengawasi anggota yang direkrutnya;
  12. Tidak melakukan kegiatan money game (memberi keuntungan pada anggota dari uang pendafatran anggota berikutnya).

Mudah-mudahan kedua belas point di atas bisa menjadi pertimbangan terbaik kita sebagai umat Islam yang sadar betul bahwa berapapun jumlah uang yang kita hasilkan, entah puluhan juta, ratusan juta, bahkan milyaran rupiahpun tidak akan membawa berkah bagi kehidupan di dunia ini apalagi di akhirat nanti, apabila diperolah dengan cara yang tidak halal.

Semoga bermanfaat.

Save

Save

This post was written by Milagros
About

Blogger, konsumen & member bisnis air kesehatan Milagros.

1 Comment for Ciri-ciri Bisnis MLM yang Halal Menurut Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *